Showing posts with label Ipteks. Show all posts
Showing posts with label Ipteks. Show all posts

Saturday, May 12, 2012

Membuat Action Figure


Action figure adalah mainan boneka yang dirancang menyerupai karakter dalam film dan karya sastra termasuk komik. Action figure bisa digerakan untuk melakukan pose-pose tertentu, mempunyai berbagai macam aksesori, seperti pakaian, peralatan, senjata, dan kendaraan.

Desain

Setelah pemilihan karakter melalui beberapa sketsa yang diusulkan, langkah selanjutnya adalah membuat prototipe dari tanah liat. Model dari tanah liat ini dibuat dengan menekuk kawat aluminium untuk membentuk tulang punggung, tangan, dan kaki dari karakter tsb yang dikenal dengan istilah armature.

 Armature

Kemudian pematung menambahkan tanah liat ke armature untuk memberikan bentuk yang diinginkan, lalu dipanggang sedikit supaya mengeras, kemudian pematung menggunakan berbagai alat seperti loop kawat untuk mengukir detail tanah liat sehingga terbentuk wujud tokoh sesuai dengan desain figure yang telah dibuat.

Setelah bentuk umum selesai, pematung menambahkan detail yang lebih rinci pada bagian mata, hidung, dan mulut agar ekspresinya lebih hidup. Agar lebih bagus, pematung menggunakan referensi foto dan model orang dalam pekerjaannya.

Desainer bisa menambahkan segumpal tanah pada armature tubuh tokoh yang sedang dibuat, sementara kepala sebenarnya di bentuk pada  armature terpisah. Hal ini memungkinkan pematung bisa menyelesaikan ekspresi tokoh tersebut secara independen terpisah dari armature bagian-bagian tubuh lainnya.

Setelah selesai, bagian kepala digabung dengan  armature utama dan digabung dengan armature tubuh lainnya dengan menggunakan tanah liat tambahan, lalu rambut dan leher diukir sesuai dengan gambar desain.

Begitu juga dengan bagian armature lainnya seperti kostum, aksesori, dan lain-lain. Tetapi jika prototipe tersebut dibuat tanpa detail kostum, maka prototipe tersebut diukir tanpa kostum. Selama proses ini, bagian tanah liat ditutupi aluminium foil agar tidak kering sebelum waktunya. Setelah semuanya selesai, armature dari tokoh tsb dipanggang supaya mengeras.

 1. War Hulk versi komik, ilustrator Adam Kubert, 2. Desain untuk action figure War Hulk, desainer Arthur Adams, 3. Produk akhir Action figure War Hulk dari Toybiz.

Bentuk prototipe, kemudian dikirim untuk disetujui oleh produsen. Setelah semua detail desain disetujui, prototipe tersebut digunakan untuk membuat cetakan yang akan membentuk potongan-potongan plastik untuk diproduksi masal.

proses ini bisa memakan waktu sekitar dua minggu, tergantung pada keterampilan dan kecepatan pemahat. Jika ada revisi pada prototipe ini maka proses ini bisa diulang sampai berkali-kali.

Bahan Mentah

Aluminium, kawat, tanah liat, dan alat-alat ukir digunakan untuk membuat prototipe. Sebuah figure sebenarnya dibentuk dari plastik resin, seperti Akrilonitril Butadiena Stirena (ABS). Plastik terkeras ini digunakan untuk membentuk tubuh utama. Plastik lebih lembut, seperti polypropylene dan polyethylene, biasanya digunakan untuk cetakan potongan aksesori dan kostum yang lebih kecil. Berbagai kain, seperti rayon dan nilon, dapat digunakan untuk kostum termasuk setelan, jubah, dan topeng. Sebagai sentuhan akhir, cat akrilik berbagai warna dapat digunakan untuk menghias figure. Figure yang lebih rumit mungkin berisi komponen elektronik mini yang bisa memberikan efek cahaya dan suara.

Proses Manufaktur

1. Membuat Cetakan
Master cetakan, atau rangkaian cetakan, terbuat dari prototipe tanah liat. Cetakan ini digunakan untuk memproduksi massal setiap cetakan bagian tertentu dari sebuah figure. Untuk menciptakan cetakan action figure dibutuhkan waktu sekitar dua pertiga dari waktu yang diperlukan untuk membuat action figure. Setiap pola berdasarkan prototipe yang dibuat untuk setiap bagian dikirimkan untuk produksi perakitan. Tahap ini mungkin memakan waktu beberapa bulan karena biasanya pabriknya berlokasi di luar negeri.

2. Para desainer harus mengetahui cara terbaik membagi bentuk satu figure utuh tiga dimensi menjadi serangkaian bagian plastik. Beberapa figure bisa saja dibentuk hanya dari satu bagian plastik, yang pastinya mempunyai gerakan terbatas. Untuk figure yang mempunyai artikulasi yang lebih banyak, setiap bagian bergerak dicetak sebagai komponen terpisah. Sebagai contoh, Star Wars Storm Trooper mainannya dirancang dengan bagian dada kopong dan bagian badannya berisi/solid terbuat bahan vynil. Keseluruhan figure dibangun dengan sendi putar yang memungkinkan anggota tubuh untuk bergerak. Daripada memakai bingkai kawat, figure ini berisi gigi kecil dan washer pada sendi pada lengan dan kaki yang memungkinkan figure bisa membungkuk keberbagai sudut dan tetap dalam posisi itu.

3. Mencetak tiap bagian figure. Beberapa teknik cetak dapat digunakan untuk membuat bagian komponen plastik. Sebagai contoh, Hasbro awalnya mempertimbangkan teknik pencetakan rotasi untuk memberikan figure Star Wars terlihat mulus tanpa cacat. Namun, ukuran potongan dengan proses tsb, menyebabkan mereka kehilangan beberapa detail dan proses ini tidak bisa diterima. Masalah lain dengan cetakan rotasi adalah prosesnya lambat dan mahal untuk ditanggung produsen. Maka Hasbro memilih untuk menggunakan proses injection molding. Dalam proses ini, plastik cair dipompa ke dalam cetakan dua potong. Penekan menahan kedua cetakan bersamaan sementara plastik mendingin dan mengeras. Cetakan ini kemudian dibuka dan komponen plastik dikeluarkan. Setiap bagian dari figure dibuat dengan cara ini.

4. Perakitan. Setelah tiap bentuk komponen plastik jadi, masing-masing dirakit membentuk satu figure utuh. Daripada memakai lem, metode segel dengan getaran ultrasonik berfrekuensi tinggi digunakan untuk menyatukan plastik menjadi satu bagian. Proses ini bisa menyegel dengan kuat antara kedua bagian, kerapatannya sangat tipis hampir tak terlihat. Hasbro menggunakan proses ini untuk membuat figure dengan detail yang bagus tanpa mengorbankan kecepatan produksi. Lem digunakan untuk memasang beberapa bagian tambahan seperti bagian dada dan sepatu bot.

5. Finishing. Sebuah figure dapat dibentuk sepenuhnya dari plastik atau ada tambahan kain yang melekat pada badan figure dalam proses terpisah. Potongan-potongan tersebut disusun secara terpisah dari figure dan ditambahkan setelah figure selesai dibuat.

6. Pengemasan dan pengiriman. Sementara figure dibuat, kemasan juga sedang dirancang. Paket ini biasanya terdiri dari sebuah kotak dengan jendela plastik bening atau alas karton ditutupi dengan plastik. Kemasan yang dirancang dengan baik dapat meningkatkan nilai figure dan pada kenyataannya, beberapa kolektor figure tidak pernah membuka figure yang mereka beli dari kemasannya sehingga figure pada kemasan tsb tetap dalam kondisi mint.

Setelah desain kemasan selesai, kemasan tersebut dikirim ke tempat di mana figure-figure itu dibuat. Figure-figure yang telah jadi dimasukkan dalam kemasan, yang kemudian direkatkan atau ditempelkan tertutup. Setelah pengemasan selesai, lalu dikirim ke tempat produsen memakai kapal laut. Setelah sampai, mainan yang telah dikemas didistribusikan ke berbagai pengecer.

Quality Control

Kualitas mainan action figure dikontrol selama proses manufaktur. Seperti halnya cetakan yang dibuat dan diuji di lokasi produksi, sampel dikirim kembali ke pabrik untuk mendapatkan persetujuan. Kemudian serangkaian tes keamanan yang ketat dan kualitas harus dilakukan untuk memastikan bahwa figure aman untuk anak-anak kecil, dan jika figure itu jatuh saat dimainkan tidak akan berantakan. Satu atau dua bulan diperlukan untuk menguji artikulasi suatu figure dalam tekanan kemasan berkali-kali. Transit tes digunakan di mana mainan berada dalam kemasannya ketika berada dalam tahap pengiriman. Pengujian tambahan melibatkan menjatuhkan dan memantulkan paket ke lantai untuk meniru penanganan yang kasar sebelum figure-figure dalam kemasan tersebut tiba di rak toko.

Sumber: http://sibeloy.blogspot.com/2011/05/membuat-action-figure.html

Friday, April 13, 2012

Penyebab Obesitas



Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh.
Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas.
Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor:


1. Faktor genetik.
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas.
Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.

2. Faktor lingkungan.
Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya).
Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.

3. Faktor psikis.
Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya.
Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan.
Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.
Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari).
Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya pada binge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak.
Pada sindroma makan pada malam hari, adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan,agitasi dan insomnia pada malam hari.

4. Faktor kesehatan.
Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya:
- Hipotiroidisme
- Sindroma Cushing
- Sindroma Prader-Willi
- Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

5.  Obat-obatan
Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.

6. Faktor perkembangan.
Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh.
Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampak 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.
Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.

7. Aktivitas fisik.
Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas.


Sumber : http://medicastore.com/penyakit/42/Obesitas.html

Tuesday, April 10, 2012

Planet Dari Galaksi Lain Ditemukan di Bima Sakti


Satu lagi penemuan baru dalam dunia extrasolar planet diumumkan malam ini. Penemuan kali ini menarik, karena bisa member gambaran tentang evolusi Tata Surya di masa mendatang khususnya untuk planet-planet gas raksasa yang tengah mengitari Matahari.
Bintang itu dari Extragalaksi

Ilustrasi sistem HIP 13044. kredit : ESO/L. Calçada
Lebih dari 15 tahun para astronom telah berhasil mendeteksi lebih dari 500 planet yang mengitari bintang lain di lingkungan kosmik, namun belum ada yang berhasil menemukan planet di galaksi lain.
Exoplanet yang baru ini ternyata mengorbit sebuah bintang yang berasal dari extragalaksi (galaksi lain) tapi kemudian masuk menjadi bagian dari galaksi Bima Sakti. Hal menarik lainnya, exoplanet ini mengorbit sebuah bintang yang sudah mendekati masa akhir hidupnya. Exoplanet ini juga bisa jadi akan mengakhiri hidupnya dengan ditelan oleh bintang yang ia kitari.
Planet tersebut bergerak mengelilingi sebuah bintang yang dikenal berada dalam aliran Helmi. Bintang-bintang dalam aliran Helmi merupakan kelompok bintang berasal dari galaksi katai yang kemudian ditelan oleh Bima Sakti, sebagai aksi kanibalisme sekitar 6 – 9 milyar tahun lalu.
Menurut Rainer Klement dari Max-Planck-Institut für Astronomie (MPIA) yang bertanggungjawab untuk memilih target bintang, “Inilah untuk pertama kalinya para astronom berhasil mendeteksi sistem keplanetan dalam aliran bintang yang asalnya dari galaksi lain. Sebenernya karena masalah jarak yang sangat jauhlah maka sampai sekarang belum ada konfirmasi hasil pendeteksian planet di galaksi lain. Namun dalam penggabungan kosmik seperti inilah, planet di extragalaksi bisa berada dalam jangkauan kita.”
Bintang yang jadi induk dari planet baru tersebut dikenal sebagai HIP 13044, dan berada pada jarak 2000 tahun cahaya dari Bumi di selatan rasi Fornax (si tungku perapian). HIP 13044 bukan lagi bintang muda yang masih segar seperti halnya Matahari. Ia sudah ada di masa tuanya dan menuju pada akhir hidup. Saat ini HIP 13044 berada dalam fase raksasa merah, fase ketika bintang sudah kehabisan hidrogen di inti dan kemudian mengembang. Pada fase ini bintang HIP 13044  kembali berkontraksi dan mulai melakukan pembakaran helium di inti.
HIP 13044 b Cerminan Masa Depan Jupiter?

Citra medan lebar pada cahaya tampak dari area disekeliling HIP 13044. Kredit : ESO & Digitized Sky Survey 2. Acknowledgment: Davide De Martin
Exoplanet yang memiliki massa minimum 1,25 massa Jupiter ini merupakan planet pertama pada sistem keplanetan bintang HIP 13044 dan disebut sebagai planet  HIP 13044 b atau SErGiO (Star of Extra- Galactic Origin). Pendeteksian HIP 13044 b dilakukan melalui teknik kecepatan radial, dimana para pengamat mendeteksi planet dari wobble (getaran) yang sangat kecil yang terjadi pada bintang sebagai akibat tarikan gravitasi dari obyek yang mengorbit dirinya.  Untuk bisa mendapatkan pengamatan yang presisi tim pengamat menggunakan spektograf FEROS (Fibre-fed Extended Range Optical Spectrograph) yang dipasang pada teleskop MPG/ESO 2,2 meter di ESO La Silla Observatory, Chile.
Yang menarik dari HIP 13044 b adalah keberhasilannya untuk selamat dari periode ketika bintang induknya mengembang setelah kehabisan persediaan hidrogen di inti. Hanya beberapa planet yang berhasil melewati masa peralihan tersebut dengan selamat.  Sampai saat ini, bintang yang berada pada cabang horisontal masih belum terpetakan seuruhnya oleh para pemburu planet.
Menurut Johny Setiawan, astronom MPIA yang juga pimpinan penelitian, “penemuan ini merupakan bagian dari kajian sistematik untuk mencari exoplanet yang mengorbit bintang-bintang yang mendekati akhir hidupnya.  Dan yang penemuan ini jadi sangat menarik jika kita juga mempertimbangkan masa depan Tata Surya saat Matahari memasuki masa tuanya sebagai bintang raksasa merah sekitar 5 milyar tahun dari sekarang.”
HIP 13044 b berada sangat dekat dengan bintang induknya. Bahkan pada posisi terdekatnya (perihelion), jaraknya hanya 0,055 jarak Matahari – Bumi (8.250.000 km) atau kurang dari diameter bintang dari permukaan bintang.  Planet ini menghabiskan waktu 16,2 hari untuk menyelesaikan putarannya pada bintang.
Hipotesa yang dilakukan Johny dan timnya menunjukkan kalau orbit planet HIP 13044 b pada awalnya jauh lebih besar namun kemudian bergerak semakin mendekati bintang selama fase raksasa merah berlangsung.
Planet-planet lain yang bergerak mendekat bisa jadi tidak seberuntung HIP 13044, karena bintang di cabang horisontal bergerak relatif cepat. Menurut Johny, salah satu penjelasan mengapa HIP 13044 berputar lebih cepat adalah karena ia melahap planet-planet dalam.
Meskipun saat ini HIP 13044 b bisa lolos dari dari nasib yang sudah dialami planet dalam, bintang HIP 13044 masih akan mengembang pada tahap evolusi berikutnya. Pada saat itu exoplanet HIP 13044 b juga akan mengalami nasib yang sama dan akan ditelan oleh sang bintang, artinya akhir hidup bagi si planet tersebut. Pertanyaannya apakah ini sebuah ramalan akan masa depan planet luar di Tata Surya, seperti Jupiter kala Matahari mendekati akhir hidupnya?
Pertanyaan lain yang timbul, adalah bagaimana planet raksasa terbentuk. Ini disebabkan karena si bintang induk hanya memiliki sedikit elemen yang lebih berat dari hidrogen.  Bahkan kandungannya lebih sedikit dari bintang lain yang diketahui memiliki planet.
Bagi Johny Setiawan dan rekan-rekannya hal ini merupakan teka-teki karena pemodelan pembentukan planet yang sudah diterima akan sulit menjelaskan bagaimana sebuah bintang yang hanya memiliki sedikit elemen berat bisa membentuk planet. Karena itu, tentu planet yang mengorbit bintang seperti ini terbentuk dengan cara yang berbeda.
Sumber : ESO

Astronom Asal Indonesia Menemukan Planet Tertua di Alam Semesta


Astronom asal Indonesia, Dr. Johny Setiawan, bersama dengan ilmuwan-ilmuwan Eropa baru saja menemukan sistem keplanetan yang unik. Sistem keplanetan ini beranggotakan dua planet yang mengorbit bintang HIP 11952, masing-masing dalam waktu 7 dan 290 hari.
Ilustrasi sistem keplanetan HIP 11952. Tampak di latar belakang galaksi-galaksi yang baru terbentu. Kredit: Timotheos Samartzidis
Bintang HIP 11952 tergolong bintang yang sangat tua. Usianya sekitar 13 milyar tahun,  hampir seumuran dengan alam semesta! Selain itu, bintang ini mengandung unsur logam sedikit sekali, hal yang sulit dijelaskan oleh teori pembentukan planet pada saat ini. Penemunya menamakan sistem keplanetan tersebut dengan nama populer Sanaatana, yang  diambil dari bahasa Sansekerta dan bermakna kekal atau purba. Penemuan ini menunjukkan adanya proses pembentukan planet pada masa awal terbentuknya alam semesta.
Teori pembentukan planet yang jamak diterima saat ini adalah bahwa planet terbentuk dalam piringan cakram gas dan debu yang mengitari bintang muda. Proses pembentukan planet sangat rumit dan hingga kini masih terbuka luas untuk diteliti lebih detil. Lebih dari 750 planet di luar Tata Surya telah ditemukan dan astronom mendapati sistem keplanetan tersebut beraneka ragam. Akan tetapi, ada kecenderungan tertentu, yaitu bintang yang mempunyai kandungan unsur logam tinggi berpeluang besar mempunyai planet. Dalam astronomi, unsur “logam” berarti unsur yang lebih berat dari hidrogen dan helium.
Perlu diketahui bahwa pada mulanya unsur yang ada di alam semesta nyaris hanya hidrogen dan helium. Hampir semua unsur berat diproduksi dalam bintang dan dilontarkna ke ruang angkasa saat bintang masif mengakhiri hidupnya dengan ledakan supernova. Dengan demikian, sampai di mana batas kandungan unsur-unsur berat yang dimiliki bintang agar masih dapat membentuk planet? Apakah bintang-bintang pertama di alam semesta juga bisa membentuk planet?
Dr. Johny Setiawan, astronom asal Indonesia dan pernah meneliti bertahun-tahun di Max-Planck-Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman, menemukan dua exoplanet yang mengorbit bintang HIP 11952, sebuah bintang di rasi Cetus, sekitar 375 tahun cahaya jauhnya dari kita. Mereka mendeteksi sistem keplanetan itu dengan menggunakan metode kecepatan radial, sebuah teknik yang kerap digunakan dalam kurun 20 tahun terakhir untuk mencari planet-planet di luar Tata Surya. Dengan teknik ini, astronom mengukur pergerakan bintang induk yang disebabkan oleh objek-objek tak tampak yang mengitarinya. Pergerakan ini bisa dilacak melalui pergeseran garis-garis spektrum bintang tersebut dengan menggunakan spektrometer. Spektrometer yang digunakan Dr. Johny Setiawan dan timnya adalah FEROS (Fibre-fe Extended Range Optical Range Spectrograph) yang dipasang pada teleskop berdiameter 2,2 meter yang berada di Observatorium La Silla di Chile. Mereka telah mengamati bintang HIP 11952 sejak tahun 2009 hingga 2011.
Kedua exoplanet tersebut, HIP 11952 b dan HIP 11952 c, merupakan planet gas raksasa dengan massa setidaknya 2,93 dan 0,8 kali massa Planet Jupiter, dan mengorbit bintang induknya dengan periode 290 dan 7 hari. Planet-planet tersebut unik. Keunikannya terletak pada fakta bahwa mereka mengorbit bintang yang memiliki kandungan unsur  logam sangat rendah (yaitu sekitar 1% dari kandungan logam Matahari) dan berusia sangat tua. Bintang semacam ini langka ditemukan di sekitar Matahari. Umumnya bintang-
bintang yang berada di sekitar Matahari mempunyai kandungan logam yang relatif tinggi dan berusia kurang dari 10 milyar tahun.
Penemuan Dr. Johny Setiawan dan kawan-kawan ini membantu menjawab pertanyaan di atas. “Kedua planet yang mengitari HIP 11952 membuktikan bahwa planet-planet ternyata memang dapat terbentuk di sekitar bintang yang kandungan logamnya sedikit,” kata Dr.
Johny Setiawan, yang memimpin penelitian tersebut. “Pada tahun 2010 lalu, kami juga menemukan planet di bintang HIP 13044 yang juga berkandungan unsur logam sedikit. Dahulu kami beranggapan bahwa itu hanya pengecualian saja. Namun sekarang, mungkin masih banyak planet-planet di sekitar bintang yang memiliki kandungan unsur logam sedikit,” ujar Dr. Veronica Roccatagliata dari
University Observatory Munich, yang juga memimpin survei pencarian planet di sekitar bintang berkandungan unsur logam rendah.
Dengan usia 12,8 milyar tahun, untuk saat ini sistem keplanetan HIP 11952 memegang rekor sistem keplanetan tertua yang pernah ditemukan. Usia alam semesta sendiri diperkirakan sekitar 13,7 milyar tahun dan bintang tertua yang ditemukan di galaksi Bima Sakti diperkirakan berusia 13,2 milyar tahun (sebagai perbandingan Matahari kita berusia 4,5 milyar tahun.). Dengan demikian, bisa dikatakan sistem keplanetan HIP 11952 terbentuk saat galaksi Bima Sakti belum sempurna terbentuk atau malahan belum terbentuk. Bintang-bintang semacam itu termasuk bintang Populasi II, yaitu bintang-bintang tertua di Bima Sakti.
“Ini bisa diumpamakan menemukan benda arkeologi di pekarangan rumah sendiri, karena sistem planet ini terbentuk ketika galaksi kita sendiri masih bayi, dan temuan ini ternyata tidak jauh jaraknya dari bumi, hanya sekitar 375 tahun cahaya.”, kata Dr. Johny Setiawan yang sekarang mengabdikan diri di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin. “Sebenarnya pernah diduga bahwa planet tersebut berasal dari stream bintang-bintang dari luar galaksi, seperti HIP 13044. Bintang-bintang semacam itu sangat menarik untuk mempelajari pembentukan planet di bintang-bintang berunsur logam rendah” lanjut Dr. Rainer Klement, yang mempelajaristream bintang-bintang di Bima Sakti. “Kami sangat tertarik untuk meneliti lebih lanjut apakah masih banyak sistem keplanetan seperti yang kami temukan. Hal ini menunjukkan bahwa planet-planet ternyata sudah terbentuk sejak permulaan terbentuknya alam semesta“, ujar Dr. Anna Pasquali dari Center for Astronomy Heidelberg, yang juga ikut dalam penelitian ini.
Sumber: Langitselatan.com

Planet Bumi Super!


Waktu kamu melihat ke langit, semua bintang akan tampak sama. Padahal, mereka sebenarnya memiliki ukuran dan warna yang berbeda.  Warna bintang bisa berbeda karena dipengaruhi temperatur permukaan bintang itu sendiri. Terlepas dari apa yang ada di pikiranmu, bintang biru jauh lebih panas dari bintang merah! Pada kenyataannya, bintang merah adalah bintang yang paling dingin! Bintang merah terkecil, yang dikenal sebagai “katai merah”, sampai saat ini merupakan tipe bintang yang umum ditemukan di Galaksi Bima Sakti.
Ilustrasi kehidupan asing di planet Bumi Super. Kredit : ESO/L. Calçada
Baru-baru ini, tim astronom yang mengamat langit menggunakan teleskop besar, menemukan planet batuan yang tidak lebih besar dari Bumi ternyata umum ditemukan di bintang katai merah. Planet seperti ini yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dari Bumi kita sebuat sebagai “Bumi Super”.
Para astronom memperkirakan 4 dari 10 bintang katai merah di galaksi Bima Sakti memiliki planet Bumi Super yang mengitari mereka pada jarak yang pas dari bintang sehingga planet Bumi Super itu bisa memiliki air dalam wujud cair. (Kalau letak planet terlalu dekat dengan bintang, air akan mendidih dan menguap, tapi air akan membeku kalau planetnya berada terlalu jauh dari bintang induknya)
Karena di Bima Sakti terdapat sekitar 160 miliar bintang katai merah, diperkirakan ada puluhan miliar planet yang ukurannya mirip Bumi di galaksi Bima Sakti yang memiliki lautan. Penemuan ini sangat menarik, karena planet seperti itu bisa saja memiliki kehidupan asing di dalamnya!
Fakta menarik : Ukuran Matahari kira-kira 100 kali lebih besar dari Bumi, tapi di kalangan bintang-bintang, Matahari hanyalah sebuah bintang katai dibanding bintang lainnya – tepatnya, sebuah bintang katai kuning.

Masa Depan Bumi Saat Matahari Berevolusi


Perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini menjadi salah satu efek yang sangat signifikan dalam perubahan kondisi Bumi selama beberapa dekade dan abad ke depan. Namun, bagaimana dengan nasib Bumi jika terjadi pemanasan bertahap saat Matahari menuju masa akhir hidupnya sebagai bintang katai putih? Akankah Bumi bertahan, ataukah masa tersebut akan menjadi masa akhir kehidupan Bumi?
Bintang Raksasa Merah. Impresi artis. source : Universetoday
Milyaran tahun lagi, Matahari akan mengembang menjadi bintang raksasa merah. Saat itu, ia akan membesar dan menelan orbit Bumi. Akankah Bumi ditelan oleh Matahari seperti halnya Venus dan Merkurius? Pertanyaan ini telah menjadi diskusi panjang di kalangan astronom. Akankah kehidupan di Bumi tetap ada saat matahari menjadi Katai Putih?
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan K.-P. Schr¨oder dan Robert Connon Smith, ketika Matahari menjadi bintang raksasa merah, ekuatornya bahkan sudah melebihi jarak Mars. Dengan demikian, seluruh planet dalam di Tata Surya akan ditelan olehnya. Akan tiba saatnya ketika peningkatan fluks Matahari juga meningkatkan temperatur rata-rata di Bumi sampai pada level yang tidak memungkinkan mekanisme biologi dan mekanisme lainnya tahan terhadap kondisi tersebut.
Saat Matahari memasuki tahap akhir evolusi kehidupannya, ia akan mengalami kehilangan massa yang besar melalui angin bintang. Dan saat Matahari bertumbuh (membesar dalam ukuran), ia akan kehilangan massa sehingga planet-planet yang mengitarinya bergerak spiral keluar. Lagi-lagi pertanyaannya bagaimana dengan Bumi? Akankah Matahari yang sedang mengembang itu mengambil alih planet-planet yang bergerak spiral, atau akankah Bumi dan bahkan Venus bisa lolos dari cengkeramannya?
Perhitungan yang dilakukan oleh K.-P Schroder dan Robert Cannon Smith menunjukan, saat Matahari menjadi bintang raksasa merah di usianya yang ke 7,59 milyar tahun, ia akan mulai mengalami kehilangan massa. Matahari pada saat itu akan mengembang dan memiliki radius 256 kali radiusnya saat ini dan massanya akan tereduksi sampai 67% dari massanya sekarang. Saat mengembang, Matahari akan menyapu Tata Surya bagian dalam dengan sangat cepat, hanya dalam 5 juta tahun. Setelah itu ia akan langsung masuk pada tahap pembakaran helium yang juga akan berlangsung dengan sangat cepat, hanya sekitar 130 juta tahun. Matahari akan terus membesar melampaui orbit Merkurius dan kemudian Venus. Nah, pada saat Matahari akan mendekati Bumi, ia akan kehilangan massa 4.9 x 1020 ton setiap tahunnya (setara dengan 8% massa Bumi).
Perjalanan evolusi Matahari sejak lahir sampai menjadi bintang katai putih.
Setelah mencapai tahap akhir sebagai raksasa merah, Matahari akan menghamburkan selubungnya dan inti Matahari akan menyusut menjadi objek seukuran Bumi yang mengandung setengah massa yang pernah dimiliki Matahari. Saat itu, Matahari sudah menjadi bintang katai putih. Bintang kompak ini pada awalnya sangat panas dengan temperatur lebih dari 100 ribu derajat namun tanpa energi nuklir, dan ia akan mendingin dengan berlalunya waktu seiring dengan sisa planet dan asteroid yang masih mengelilinginya.
Zona Laik Huni yang Baru
Saat ini Bumi berada di dalam zona habitasi / laik huni dalam Tata Surya. Zona laik huni atau habitasi merupakan area di dekat bintang di mana planet yang berada di situ memiliki air berbentuk cair di permukaannya dengan temperatur rata-rata yang mendukung adanya kehidupan. Dalam perhitungan yang dilakukan Schroder dan Smith, temperatur planet tersebut bisa menjadi sangat ekstrim dan tidak nyaman untuk kehidupan, namun syarat utama zona habitasinya adalah keberadaan air yang cair.
Terbitnya bintang raksasa merah. Impresi artis. Sumber: Jeff Bryant's Space Art.
Tak dapat dipungkiri, saat Matahari jadi Raksasa Merah, zona habitasi akan lenyap dengan cepat. Saat Matahari melampaui orbit Bumi dalam beberapa juta tahun, ia akan menguapkan lautan di Bumi dan radiasi Matahari akan memusnahkan hidrogen dari air. Saat itu Bumi tidak lagi memiliki lautan. Tetapi, suatu saat nanti, ia akan mencair kembali. Nah saat Bumi tidak lagi berada dalam area habitasi, lantas bagaimana dengan kehidupan di dalamnya? Akankah mereka bertahan atau mungkin beradaptasi dengan kondisi yang baru tersebut? Atau itulah akhir dari perjalanan kehidupan di planet Bumi?
Yang menarik, meskipun Bumi tak lagi berada dalam zona habitasi, planet-planet lain di luar Bumi akan masuk dalam zona habitasi baru milik Matahari dan mereka akan berubah menjadi planet layak huni. Zona habitasi yang baru dari Matahari akan berada pada kisaran 49,4 SA – 71,4 SA. Ini berarti areanya akan meliputi juga area Sabuk Kuiper, dan dunia es yang ada disana saat ini akan meleleh. Dengan demikian objek-objek disekitar Pluto yang tadinya mengandung es sekarang justru memiliki air dalam bentuk cairan yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan. Bahkan bisa jadi Eris akan menumbuhkan kehidupan baru dan menjadi rumah yang baru bagi kehidupan.
Bagaimana dengan Bumi?
Apakah ini akhir perjalanan planet Bumi? Ataukah Bumi akan selamat? Berdasarkan perhitungan Schroder dan Smith Bumi tidak akan bisa menyelamatkan diri. Bahkan meskipun Bumi memperluas orbitnya 50% dari orbit yang sekarang ia tetap tidak memiliki pluang untuk selamat. Matahari yang sedang mengembang akan menelan Bumi sebelum ia mencapai batas akhir masa sebagai raksasa merah. Setelah menelan Bumi, Matahari akan mengembang 0,25 SA lagi dan masih memiliki waktu 500 ribu tahun untuk terus bertumbuh.
Matahari yang menjadi raksasa merah akan mengisi langit seperti yang tampak dari bumi. Gambar ini menunjukan topografi Bumi yang sudah meleleh menjadi lava. Tampak siluet bulan dengan latar raksasa merah. Copyright William K. Hartmann
Saat Bumi ditelan, ia akan masuk ke dalam atmosfer Matahari. Pada saat itu Bumi akan mengalami tabrakan dengan partikel-partikel gas. Orbitnya akan menyusut dan ia akan bergerak spiral kedalam. Itulah akhir dari kisah perjalanan Bumi.
Sedikit berandai-andai, bagaimana menyelamatkan Bumi? Jika Bumi berada pada jarak 1.15 SA (saat ini 1 SA) maka ia akan dapat selamat dari fasa pengembangan Matahari tersebut. Nah bagaimana bisa membawa Bumi ke posisi itu?? Meskipun terlihat seperti kisah fiksi ilmiah, namun Schroder dan Smith menyarankan agar teknologi masa depan dapat mencari cara untuk menambah kecepatan Bumi agar bisa bergerak spiral keluar dari Matahari menuju titik selamat tersebut.
Yang menarik untuk dikaji adalah, umat manusia seringkali gemar berbicara tentang masa depan Bumi milyaran tahun ke depan, padahal di depan mata, kerusakan itu sudah mulai terjadi. Bumi saat ini sudah mengalami kerusakan awal akibat ulah manusia, dan hal ini akan terus terjadi. Bisa jadi akhir perjalanan Bumi bukan disebabkan oleh evolusi matahari, tapi oleh ulah manusia itu sendiri. Tapi bisa jadi juga manusia akan menemukan caranya sendiri untuk lolos dari situasi terburuk yang akan dihadapi.

Planet X Bukan Planet Nibiru


Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari di balik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?
Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (Mayan Prophecy) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.
Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah objek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi, sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini adalah penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor di balik Sabuk Kuiper.
Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal. Paper mereka menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.
Kuiper Belt Objects (KBOs)

Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuiper. Kredit : NASA
Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar objek-objek batuan dan metalik. Objek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui, Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper. Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit objek Sabuk Kuiper yang telah dapat diamati di balik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Objek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai, dan telah mereka perhitungkan keberadaannya.
Para peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah objek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Objek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian objek Sabuk Kuiper dan objek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.

Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA
Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari objek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan. Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk objek Sabuk Kuiper yang besar, atau pencarian planet minor. Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari objek-objek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.
“The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.” – Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.
Planet X Tidaklah Menakutkan
Jadi, dari mana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976, sebuah buku kontroversial berjudul The Twelfth Planetatau Planet Kedua belas ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6.000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapiens sebagai budak mereka.
Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detail jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari suatu tulisan kuno berusia 6.000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesis Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?
Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933. Para pendukung hipotesis kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis tersebut, sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.
Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.
Sumber : Langit Selatan

Ilmuwan Temukan Exoplanet Layak Huni


Flyingclown.blogspot.com, Sebuah planet yang berjarak sekitar 20 tahun cahaya di luar tata surya kita untuk pertama kalinya secara resmi dinyatakan layak dihuni oleh sejumlah ilmuwan. Exoplanet Gliese 581d ini memiliki kondisi yang dapat mendukung kehidupan seperti Bumi, termasuk adanya samudera dan memunginkan terjadinya curah hujan. Awalnya, setiap pendaratan para voyager pada masa mendatang, diperkirakan akan menemukan diri mereka dalam lingkungan yang benar-benar asing. Langit nampak merah keruh, bukan biru dan gravitasi dua kali lipat dari bumi.

Selain itu, atmosfir planet itu kaya akan karbondioksida, yang tidak memungkinkan manusia untuk bernapas. Para ilmuwan dikejutkan dengan temuan ini karena Gliese 581d sebelumnya diabaikan sebagai planet yang dapat dihuni. Akan tetapi model komputer baru yang mampu mensimulasi iklim luar Bumi telah menunjukkan asumsi sebelumnya adalah salah dan menegaskan bahwa Gliese 581d benar-benar tempat berlabuh yang dapat dihuni. Para ilmuwan yakin temuan tersebut dapat membuka jalan untuk menemukan lebih banyak tempat potensial untuk dapat dihuni, termasuk sebagian yang bersifat tak terduga dan asing.

Dilansir Daily Mail (17/5), Dr, Robin Wordsworth, seorang anggota tim Perancis dari Institut Piere Simon Laplace, Paris mengatakan, “Temuan ini penting karena ini merupakan pembuat contoh iklim yang pertama kalinya membuktikan bahwa planet ini berpotensi untuk dihuni dan semua pengamat setuju, planet itu ada.”

“Jika anda mengamati sejarah pencarian planet sejauh ini sedikitnya ada dua contoh ketika para ilmuwan telah mengumumkan bahwa dunia yang dapat dihuni telah ditemukan, hanya saja kalim ini kemudian dibantah, baik oleh para pakar iklim maupun oleh pengamat lain.”

“Sistem Gliese sangat menggembirakan kita, karena dekat dengan Bumi. Pada masa mendatang, dengan menggunakan teleskop kita akan dapat menelusuri kehidupan di Gliese 581d secara langsung.”

“Perkataan ini, merupakan fakta bahwa sebuah planet tidak mirip Bumi dapat menjadi pertanda layak huni bagi kehidupan secara umum.”

“Saya pikir hal tersebut menjadi lebih jelas. Dengan setiap penemuan yang kita buat dalam ilmu pengetahuan exoplanet, berbagai dunia di luar alam semesta akan jauh lebih besar dari beberapa contoh yang kita gunakan dari sistem tata surya kita.” (Erabaru/DM/sua)

Sumber : http://erabaru.net/featured-news/48-hot-update/26330-ilmuwan-temukan-exoplanet-layak-huni

Saturday, April 7, 2012

Sejarah Blog


Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger, yang dimiliki oleh Pyra Labs sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat sumber terbuka yang diperuntukkan kepada perkembangan para penulis blog tersebut.
Blog mempunyai fungsi yang sangat beragam,dari sebuah catatan harian, media publikasi dalam sebuah kampanye politik, sampai dengan program-program media dan perusahaan-perusahaan. Sebagian blog dipelihara oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa penulis, . Banyak juga weblog yang memiliki fasilitas interaksi dengan para pengunjungnya, seperti menggunakan buku tamu dan kolom komentar yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan komentar atas isi dari tulisan yang dipublikasikan, namun demikian ada juga yang yang sebaliknya atau yang bersifat non-interaktif.
Situs-situs web yang saling berkaitan berkat weblog, atau secara total merupakan kumpulan weblog sering disebut sebagai blogosphere. Bilamana sebuah kumpulan gelombang aktivitas, informasi dan opini yang sangat besar berulang kali muncul untuk beberapa subyek atau sangat kontroversial terjadi dalam blogosphere, maka hal itu sering disebut sebagai blogstorm atau badai blog.

Thursday, April 5, 2012

Manfaat dari Pohon Bambu


Quote:

Hampir setiap hari, setiap orang telah diberi banyak peringatan mengenai efek merusak yang telah kita lakukan terhadap lingkungan sekitar dan bumi. Mulai dari pemanasan global, deforestasi besar-besaran, hingga populasi manusia berlebih, menjadi penyebab dalam penipisan sumber daya alam di muka bumi. Orang-orang mengambil lebih dari apa yang bisa diperbaharui dan keseimbangan ekosistem harus dikorbankan. Kini kita dapat berharap pada salah satu solusi terbaik dari semua masalah ini : bambu, tanaman dengan segala keunikannya yang bermanfaat.
Quote:

1. Bambu adalah Penyerap Karbon yang Baik
Spoiler for Skema Bambu:

Bambu menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen 30% lebih banyak ke atmosfer dibandingkan dengan pohon-pohon pada umumnya.
Hal ini membuat bambu sangat baik untuk menyerap gas rumah kaca dan memproduksi lebih banyak oksigen bersih dan segar.

Quote:

2. Bambu Tumbuh dengan Sangat Cepat
Spoiler for Bambu:

Beberapa spesies bambu tercatat dapat tumbuh setinggi lebih dari 90cm dalam sehari! Sekitar 3.8cm dalam satu jam! Tidak ada tanaman lain di bumi bisa melakukan ini!. Bambu dapat mencapai kedewasaan penuh dalam 1 sampai 5 tahun (bergantung dari spesies). Pohon kayu keras dapat membutuhkan waktu 30 sampai 40 tahun untuk dewasa. Hal ini menjadikan bambu sebagai satu-satunya tanaman berkayu yang dapat mengimbangi tingkat konsumsi manusia dan deforestasi.
Quote:

3. Regenerasi Bambu yang Cepat
Spoiler for Rumpun Bambu:

Ketika bambu dipanen, maka akan terus tumbuh tunas-tunas baru dari sistem perakarannya yang menakjubkan. Bambu tidak memerlukan bahan kimia, pestisida atau pupuk untuk tumbuh dan berkembang. Daun-daun yang terjatuh memberikan nutrisi yang diperlukan agar bisa didaur ulang kembali ke dalam tanah. Setiap bagian dari tanaman dapat dimanfaatkan dalam banyak cara dengan limbah yang tergolong sedikit. Setelah material dari bambu mencapai batas ketahanannya, limbahnya dapat didaur ulang kembali ke dalam tanah.
Quote:

4. Bambu Mencegah Terjadinya Erosi
Spoiler for Lahan Miring Bambu:

Setelah hutan kayu keras habis ditebangi, humus di bagian tanah atas akan mudah terkikis dan akhirnya ikut hanyut terbawa aliran sungai yang sangat membahayakan satwa-satwa liar. Namun hal ini tidak berlaku bagi bambu, karena sistem perakaran bambu akan terus tumbuh bahkan setelah pemanenan. Tunas baru akan muncul dan akar bambu masih mampu menjaga kestabilan tanah dan mempertahankan nutrisi yang ada.
Quote:

5. Bambu Dapat Tumbuh Dalam Berbagai Kondisi
Spoiler for Bambu saat Musim Salju:

Bambu memiliki daya tahan yang kuat dan dapat tumbuh di segala macam kondisi iklim dan jenis tanah dimana tanaman lain gagal tumbuh.